Pada masa kejayaannya petani ba wang putih Sembalun, Lombok Ti mur (Lomtim), Nusa Tenggara Barat (NTB), mampu menghasilkan 30 ton/ha bawang putih basah dari 1 ton/ha varietas sangga. Di samping sukses budidaya, petani juga berjaya karena mendapat harga jual yang stabil tinggi.

Bahkan pada waktu itu, konon daftar calon haji terpanjang dari NTB berasal dari Sembalun. Namun, pada 1998 kebijakan impor dilonggarkan. Bawang putih dari China ma suk, harga lokal pun ter jun payung. Tak ada lagi kenikmatan harga tinggi seperti waktu bawang pu tih masih menjadi pilihan utama di negeri sendiri. Akhirnya, banyak petani beralih menanam komodi tas pertanian lain seperti kentang dan cabai. Keinginan Anak Sembalun Setelah sekian lama di ting galkan, kini pemerintah ingin mengangkat lagi kejayaan pertanian ba wang putih di Sembalun.

Wilnawadi, pria 31 tahun yang lahir dan besar di Sembalun pun me nyambut hangat niat tersebut. “Dari dulu, nenek moyang kami sudah bertanam bawang putih. Walau penduduk bekerja sebagai pegawai negeri atau apapun, pas ti dia petani bawang putih juga,” ceritanya saat dihubungi oleh AGRINA melalui telepon selular (6/2).

Orang tuanya, berprofesi sebagai petani bawang putih. Dan kini, ia juga menggeluti bidang yang sama seperti para tetua nya. Dulu ayah dua anak itu, pernah be ker ja di perusahaan penanaman melon. Ke mudian pindah dan sekarang bekerja un tuk promosi produk pupuk dan pestisida. “Tapi sa ya juga bertani bawang putih menerus kan usaha orang tua” katanya. Meski sempat melempem, lelaki yang ju ga tenar dengan nama Hengky itu berharap, Sembalun bisa memproduksi bawang putih lebih banyak lagi. Ia sadar, bermain di sektor pertanian memang tidak selalu untung.

Jika pun rugi, Hengky tetap akan berusaha mempertahankan pertanian turun-temurun dari nenek moyang. Yang terpenting, pintanya, pemerintah harus memperhatikan harga yang menguntungkan petani. Jika mendapat harga ba gus, petani pasti akan merawat tanaman bawang putihnya dengan baik. Mencoba Bangkit Menengok ke tahun 2013 atau 2014, jum lah petani yang menanam bawang pu tih di desa indah berlokasi di lereng Gu nung Rin jani itu masih terbilang sedikit. “Mulai 2017 banyak yang memulai lagi,” cerita Sekretaris Kelom pok Tani Jorong Mandiri itu.

Kelompok yang ber anggotakan 15 petani bawang putih ini mendapat bantuan dari pemerintah me lalui program se ren tak, berupa benih bawang pu tih, mulsa, dan pupuk. Hengky menanam bawang pu tih varietas lokal sangga dan ba gong. Di samping itu, ia juga ber gilir menggunakan varietas impor seperti lembu hijau dan lembu kuning. Biasanya, ayah dua anak itu menanam benih sebanyak 100 kg/15 are.

Dalam ku run waktu 3 bulan dengan cuaca normal, ia bisa panen sekitar 2 ton/15 are bawang putih basah. Harga jual ke pengepul berkisar Rp55 ribu/kg. Menurut suami Saidah itu, petani kerap dihantui cendawan yang menyerang um bi. Pada umur 50 hari, serangan cenda wan bernama lokal empul itu mulai terlihat. Sekali kena, umbi tidak bisa dipanen.

Untuk memperkecil serangan cendawan, Hengky menambah bahan organik saat pengolahan la han. Setelah benih berkecambah, ia meng aplikasikan pupuk mikro cair yang mengandung silika 20%.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *