Lembaga keuangan akan menghadapi risiko besar bila ikut mendanai produksi dan pengolahan minyak sawit tidak berkelanjutan. Demikian kesimpulan laporan berjudul Mengelola Risiko Kelapa Sawit: Laporan singkat untuk pemodal yang diterbitkan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Landscape Indonesia, Selasa (12/12) di Jakarta.

Tiur Rumondang, Country Director RSPO Indonesia menjelaskan, laporan ini dibuat karena belum ada pembahasan tentang risiko berinvestasi di kebun sawit tanpa berkerlanjutan. “Risiko ini yang mau dipaparkan. Bagaimana mengelola risiko kelapa sawit dengan standar keberlanjutan.

Kelapa sawit tidak berkelanjutan bisa memberikan banyak risiko,” terang Tiur. Terlebih, bank salah satu stake holder RSPO yang sangat berperan di sisi paling hulu. Menurut Agus P. Sari, CEO Landscape Indonesia dan sebagai penyusun laporan itu, lembaga keuangan tengah menghadapi berbagai risiko terkait reputasi, benturan dengan peraturan, dan finansial yang semakin meningkat bila memberikan pendanaan kepada produsen kelapa sawit yang tidak berkelanjutan. “Otoritas Jasa Keungan (OJK) telah mengeluarkan Peraturan No. 51 Tahun 2017 yang melarang institusi pendanaan untuk memberi pendanaan pada perusahan perusak lingkungan, Bank bisa dituntut.

Bank bisa kehilangan reputasi dan nasabah jika produsennya tidak sustainable. Semua risiko ini ujung-ujungnya akan jadi risiko finansial. Bank akan mengalami kerugian,” papar Agus. Karena itu perbankan harus memahami standar sertifikasi setiap perusahaan. “Lembaga keuangan melalui keputusan pendanaan yang diambilnya dapat mendorong perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Keputusan bisnis yang memperhatikan isu keberlanjutan akan menciptakan stabilitas dan kemakmuran bagi bank dengan membatasi eksposur terhadap risiko,” pungkasnya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *