S erangan flu burung berpatogenitas rendah (Low Pathogenic Avian Influenza – LPAI) H9N2 yang tengah yang merebak beberapa bulan terakhir, memang tidak menimbulkan kematian. Meskipun demikian, di sisi ekonomi hal itu tetap merugikan. Tak tanggung-tanggung, penurunan produksi pada layer (ayam petelur) bisa turun sampai 40%. Bisa dibayangkan berapa lembaran rupiah yang tidak jadi masuk kantung. Para peternak layer masih menunggu jawaban pemerintah atas kasus LPAI yang sedang mewabah ini. Dari pihak pemerintah, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian masih mengkaji berbagai isolat lokal dari beberapa produsen vaksin. Fadjar Sum ping Tjatur Rasa menyampaikan, dibutuh kan vaksin kualitas terbaik untuk flu bu rung karena akan diproduksi secara massal. “Isolat kami kumpulkan dari para produsen vaksin, baik swasta maupun pemerintah. Dicari yang paling baik karena untuk produksi massal. Rencananya September 2017,” tutur Direktur Kesehatan Hewan ini di sela-sela Kick-Off Ildex Indonesia, di Jakarta, Selasa (18/7).

Lebih Rumit

H9N2 tergolong LPAI, berbeda dengan H5N1 yang pernah booming lebih dulu di Indonesia. H5NI merupakan virus flu bu rung dengan tingkat patogenitas tinggi (High Pathogenic Avian Influenza – HPAI). Menurut Fadjar, HPAI dan LPAI memiliki perbedaan karakter, isolasi, sekaligus pemurniannya. Keberadaan HPAI seperti H5N1 lebih mudah dideteksi daripada LPAI H9N2. Fadjar yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta mengibaratkan, HPAI lebih kuat ketimbang LPAI. “LPAI diisolasi sebentar, tapi sudah mati. Pertumbuhannya lebih sulit dibanding HPAI. HPAI dulu lebih gampang, seperti waktu H5N1 clade 2.3.2,” ulasnya. Ia melanjutkan, untuk pengujian kedua virus ini pun berbeda. Dalam uji tantang virus H5N1, satu kelompok ayam Specific Pathogen Free (SPF) diberikan vaksin, sedangkan lainnya tidak. Bila ayam yang ditantang virus dapat bertahan, berarti vaksinasi berhasil. Sementara untuk virus H9N2, kelompok ayam baik yang diberikan vaksin ataupun tidak diberikan, tidak menunjukkan kematian. Prosesnya juga di nilai Fadjar membutuhkan waktu, terutama untuk produksi telurnya yang harus menunggu.

Vaksin Terbaik

Pada kesempatan lain, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diar mita mengakui, permasalahan LPAI H9N2 ini menjadi agak “mbulet” lantaran proses isolasinya memang rumit. Membuat isolat virus, ucapnya, tidaklah mudah. Lebih-lebih virus yang sifatnya low pathogenic tidak semudah yang high pathogenic. Virus HPAI lebih tahan hidup, sedangkan LPAI virusnya lebih cepat mati. “Itu yang membuat sulit untuk mengisolasi, tapi saat ini kita sudah berhasil mengisolasi,” ujar mantan Kepala Balai Besar Veteriner Denpasar, Bali ini. Baik pihak swasta maupun lembaga milik pemerintah sebenarnya sudah ada yang menyiapkan isolat. Namun bagi Fadjar, seed tersebut harus dicek ulang kemudian yang paling bagus dan sesuailah yang akan dijadikan master-nya. “Harus kami seleksi mana yang terbaik, mana yang dipakai sebagai bahan vaksin nasional. Karena percuma diproduksi massal, tapi kalau bibit yang dipilih tidak sesuai,” tegasnya. Jadi, tampaknya peternak masih harus bersabar menunggu lampu hijau pemerintah untuk mendapatkan vaksin yang resmi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *