Sebetulnya Taufik Hidayat sudah nyaman menjadi karyawan. Selain posisinya sudah mapan, penghasilan dari bekerja juga sudah mencukupi kebutuhan keluarga. Namun karena ingin berada dalam posisi berbeda, Taufik berubah haluan. Kini ia menikmati bagaimana rasanya “berjudi” di budidaya udang.

Membuka Tambak

Taufik membuka areal tambak udang su per intensif melalui kerja sama dengan se jumlah pengusaha udang lainnya pada 12 ha lahan di tiga lokasi di Kabupaten Pesisir Ba rat, Lampung. Ia sudah mengoperasi kan tambaktambak itu selama tiga tahun terakhir. Sebelum terjun ke budidaya udang, Taufik malang-melintang bekerja di sejumlah pabrik pakan, seperti PT CP Prima sebagai technical support (TS) sejak 1995. Karena itu budidaya si bongkok sudah 22 tahun digelutinya. “Ya sebetulnya 15 tahun terakhir ini bolehlah dikatakan sudah nyaman.

Namun, kita ‘kan tidak boleh berhen ti, harus mencari yang lebih baik,” ujar nya kepada AGRINA mengisahkan pengalaman hidup. Sarjana jurusan Biologi lulusan Uni versitas Negeri Lampung ini mendesain tambak dengan bentuk persegi panjang agar lebih mudah mengatur posisi kincir zigzag di pinggir kolam. Tujuannya agar kotoran dan pakan tidak menumpuk di tengah kolam tetapi menyebar ke semua bagian sehingga pakan dimakan sempurna oleh udang. Karena tanah di pantai barat Lampung berupa tanah berpasir, ia melapisi dasar kolam dengan plastik high density polyethylene (HDPE) agar air tidak mudah merembes ke luar kolam. Apalagi, umumnya dasar kolam dibangun lebih tinggi dari pasang naik tertinggi. Mengingat daya dukung lingkungan tam bak masih baik, Taufik lalu mengembangkan sistem budidaya super intensif dengan padat tebar tinggi, mencapai 200 ekor/m2 . Ia juga menggunakan 20 kincir pada kolam seluas 3.000 m2 berkedalaman tiga meter.

Hal itu ia lakukan guna menekan biaya produksi udang. Sebab, budidaya udang di pantai barat Lampung mengandalkan genset berbahan bakar solar industri untuk memutar kincir sehingga biaya energinya jauh lebih tinggi dibandingkan listrik PLN. “Dengan tingginya kepadatan tebar, maka biaya per kg udang bisa ditekan,” akunya. Taufik juga menerapkan teknologi budidaya semi-flok, yaitu ganti air secara rutin sepanjang budidaya udang. Tambak ukuran 3.000 m2 menggunakan pipa ukuran 8 inci guna memasukkan air selama 10 jam/ hari untuk ganti air. Lantas, ia melakukan panen parsial tiga kali. Panen pertama saat udang berukuran 80 ekor/kg, panen kedua ukuran 70 ekor/kg, dan terakhir ukuran 50 ekor/kg.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *